Rabu, 06 Juli 2011

Drama Manakah yang Ending-nya Paling Mengecewakan?



Beberapa waktu yang lalu, sebuah komunitas online meminta netizen memilih drama yang ending-nya paling mengecewakan/tidak masuk akal dan kini pada tanggal 6 Juli (hari ini), hasil dari survey tersebut telah dirilis.

Pada posisi #1 dengan total 1.649 atau 27,1% netizen memilih sitkom harian MBC “High Kick Through the Roof“ sebagai drama dengan ending yang paling mengecewakan. Sejak awal penayangannya yaitu pada September 2009 sampai Maret 2010, sitkom ini menerima banyak pujian karena plot ceritanya yang lucu. Namun, sayangnnya diakhir episode, sitkom ini banyak mengecewakan penontonnya dengan adegan yang membuat dua pemeran utama meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil.
Menyusul pada posisi ke #2 diisi oleh drama SBS tahun 2004 silam, “Lovers In Paris” dengan total 1.493 atau 24,5% suara. Drama ini mengisahkan tentang cinta antara seorang pria kaya bernama “Han Ki Ju” dan Cinderella-nya, “Kang Tae Young”. Drama “Lovers In Paris” ini menciptakan trend frase populer seperti, “Let’s go, baby”, dan “You’re inside of my heart”. Bagaimanapun drama tersebut melahirkan trend frase terbaru saat itu, namun tetap saja ending dari drama ini menyecewakan penggemarnya karena terungkap ternyata semua cerita dalam drama tersebut hanyalah cerita dari novel yang ditulis oleh pemeran utamanya, “Kang tae Young”.
Sementara itu, drama “49 Days“ menempati posisi ke #3 dengan meraih sebanyak 415 atau 6,8% suara. Drama ini mengisahkan pemeran cewek protagonisnya, “Shin Ji Hyun” menderita koma karena sebuah kecelakaan, dan untuk bisa hidup, ia diminta mengumpulkan air mata dari 3 orang yang benar-benar peduli padanya. Untuk itulah, dia menggunakan tubuh orang lain, yaitu seorang wanita bernama “Song Yi Kyung” untuk mendapatkan air mata tersebut. Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya “Shin Ji Hyun” dapat hidup kembali, tapi yang membuat penonton kecewa adalah karena hanya dalam enam hari setelah keberhasilannya tersebut, Shin Ji Hyun pun meninggal.
Adapun drama lain yang juga masuk dalam survey kali ini yaitu, drama SBS “The Wife’s Temptation“, drama MBC “Legend“, dan drama “War of Money“ dari SBS.

Kamis, 30 Juni 2011

Mereka pun mengalaminya!

Siapa yang bisa menolak pesona kesembilan gadis cantik ini? Ribuan gadis diluar sana banyak yang mengatakan dengan semua bakat istimewa yang mereka miliki, mereka akan selalu dipuja. Tapi tahukah kalian bahwa mereka juga pernah diperlakukan seenaknya? Baca pengakuan mereka dibawah ini…
Mereka harus terus menampilkan wajah bahagia, tapi rasanya sangat sulit menunjukkan semua itu jika berada dibawah tekanan dan kritik yang sangat tajam dan terkadang merendahkan. Semua idola pernah mengalaminya, tapi terkadang kritikan tajam itu lebih mengarah ke grup cewek. After Schoolkhususnya telah menjadi korban dari sekian banyak kesalahpahaman dan rumor. Dalam wawancara baru-baru ini, mereka mengungkapkan rasa sakit hati mereka akan hal tersebut.
Sang leader, Kahi, mengakui, ” Saya merasa itu sungguh tidak adil ketika saya dicap ‘gadis pecundang’. Hanya karena saya mengatakan sejujurnya tentang tipe ideal saya…mendapat kritikan seperti itu sungguh membuatku kecewa. 
Kritikan itu datang ketika Kahi menjadi bintang tamu dalam program MBCQuiz to Change the World“. Ketika ia ditanya tentang tipe idealnya, ia pun menjawab, ” Saya lebih suka cowok dengan tinggi diatas 183 cm ” yang membuat ia dicap sebagai gadis yang mengatakan pria pendek adalah ‘pecundang’ dalam salah satu episode “Chat with Beauties“. Banyak netizen yang berkomentar bahwa reaksi orang-orang terhadap pengakuan Kahi tersebut sangat berlebihan dan Kahi pun mengklarifikasinya, ” Saya tidak pernah menggunakan kata ‘pecundang’ dan saya tidak akan menyebut seseorang ‘pecundang’ karena kekurangannya. Saya minta maaf jika banyak orang kecewa dengan pernyataan saya tersebut. Saya juga minta maaf kepada para staf “Quiz to Change the World” yang telah menderita karena saya.
UEE, yang sering disalahkan atas kegagalan drama “Birdie Buddy“, mengakui bahwa tuduhan tersebut membuatnya sangat terluka dan khawatir. Tapi ia bersyukur atas bantuan yang ia terima dari para staf SBS “Night after Night“. Ia menambahkan, ” Kim Jae Dong oppa, khususnya, banyak memberiku kata-kata bijak : “Kamu adalah kamu. Jangan tunjukkan sisi lemahmu pada mereka yang menyukaimu, jangan pernah membiarkan egomu terguncang, dan bekerja keraslah.” Di masa lampau, saya selalu bertanya apa yang saya lakukan ini salah, tapi sekarang, daripada terus berpikir seperti itu, saya memaksa diriku untuk selalu maju langkah demi langkah di setiap waktu. 
Kahi yang mendengar pengakuan UEE tersebut terlihat sangat terluka, dan ia berkomentar, ” Banyak sekali orang mengatakan hal-hal kejam dengan mudahnya. 
Raina ikut menyatakan betapa ia sangat marah dengan insiden di acara penghargaan tahun lalu. Ia berkata, ” Ada suatu bagian dimana anggota dari setiap grup cewek tampil bersama-sama dan menarikan sebuah koreografi. Saya tidak pandai menari, jadi saya merasa sedikit malu. Itu sebabnya saya melihat anggota lain dan tertawa, tapi tiba-tiba Luna f(x)berada didepanku. Ketika besoknya saya melihat siaran acara tersebut, mereka membuatnya seakan-akan saya menertawakan cara Luna menari. Padahal itu bukanlah alasan mengapa saya tertawa, jadi saya merasa sangat menyesal dan malu. Ketika saya bertemu dengan Luna di sebuah siaran beberapa waktu kemudian, saya minta maaf padanya, dan ia mengatakan tidak apa-apa. 

PLEASE TAKE OUT WITH FULL CREDIT!!!


Take out from phenom via Allkpop

Kegilaannya Big Bang

Sebenernya kesian ngeliatnya kaya ga punya temen hahhaha ^o^
T.O.P & Keringetnya:
Kesian… Sini Madam kipasin:
pics: as tagged
via: bigbangtumblr

Sabtu, 28 Mei 2011

Kondisi Perekonomian Indonesia Pra Kemerdekaan

            Ada empat negara yang pernah menduduki Indonesia, yaitu Portugis, Belanda, Inggris, dan Jepang.  Portugis tidak meninggalkan jejak yang mendalam di Indonesia karena keburu diusir oleh Belanda, tapi Belanda yang kemudian berkuasa selama sekitar 350 tahun, sudah menerapkan berbagai sistem yang masih tersisa hingga kini.  

1.      Masa Kependudukan Belanda.
            Belanda melimpahkan wewenang untuk mengatur Hindia Belanda kepada VOC ( Vereenigde Oost-Indische Compagnie ) sebuah perusahaan yang didirikan dengan tujuan untuk menghindari persaingan antar sesama pedagang Belanda, sekaligus untuk menyaingi perusahaan imperialis lain seperti EIC (Inggris).  Untuk mempermudah langkahnya diHindia Belanda ( Indonesia dulu ). Voc diberikan hak-hak istimewa, antara lain:
-        Hak mencetak uang.
-        Hak mengangkat dan memberhentikan pegawai.
-        Hak menyatakan perang dan damai.
-        Hak untuk membuat angkatan bersenjata sendiri.
-        Hak untuk membuat perjanjian dengan raja-raja.

            Hak-hak itu seakan melegalkan keberadaan VOC sebagai “penguasa” Hindia Belanda.  Namun, tidak berarti bahwa seluruh ekonomi Nusantara telah dikuasai VOC.  Kenyataannya, sejak tahun 1620, VOC hanya menguasai komoditi-komoditi ekspor sesuai permintaan pasar di Eropa, yaitu rempah-rempah.  Kota-kota dagang dan jalur-jalur pelayaran yang dikuasainya adalah untuk menjamin monopoli atas komoditi itu.  VOC juga belum membangun sistem pasokan kebutuhan-kebutuhan hidup penduduk pribumi.  Peraturan-peraturan yang ditetapkan VOC seperti verplichte leverentie ( kewajiban meyerahkan hasil bumi pada VOC ) dan contingenten ( pajak hasil bumi ) dirancang untuk mendukung monopoli itu.  Disamping itu, VOC juga menjaga agar harga rempah-rempah tetap tinggi, antara lain dengan diadakannya pembatasan jumlah tanaman rempah-rempah yang boleh ditanam penduduk, pelayaran Hongi dan hak extirpatie ( pemusnahan tanaman yang jumlahnya melebihi peraturan ). Semua aturan itu pada umumnya hanya diterapkan di Maluku yang memang sudah diisolasi oleh VOC dari pola pelayaran niaga samudera Hindia.  Dengan memonopoli rempah-rempah, diharapkan VOC akan menambah isi kas negri Belanda, dan dengan begitu akan meningkatkan pamor dan kekayaan Belanda.  Tetapi, pada tahun 1795, VOC bubar karena dianggap gagal dalam mengeksplorasi kekayaan Hindia Belanda.  Kegagalan itu nampak pada defisitnya kas VOC.
            Selain VOC, pemerintah Belanda juga memberlakukan sistem Cultuurstelstel ( sistem tanam paksa ) mulai diberlakukan pada tahun 1836 atas inisiatif Van Den Bosch.  Tujuannya adalah untuk memproduksi berbagai komoditi yang ada permintaannya di pasaran dunia.  Sejak saat itu, diperintahkan pembudidayaan produk-produk selain kopi dan rempah-rempah, yaitu gula, nila, tembakau, teh, kina, karet, kelapa sawit, dll.  Sistem ini jelas menekan penduduk pribumi, tapi amat menguntungkan bagi Belanda, apalagi dipadukan dengan sistem konsinyasi ( monopoli ekspor ).  Setelah penerapan kedua sistem ini, seluruh kerugian akibat perang dengan Napoleon di Belanda langsung tergantikan berkali lipat.
 Sistem ini digunakan dalam rangka memperkenalkan penggunaan uang pada masyarakat pribumi.  Masyarakat diwajibkan menanam tanaman komoditas ekspor dan menjual hasilnya ke gudang-gudang pemerintah untuk kemudian dibayar dengan harga yang sudah ditentukan oleh pemerintah.  Bagi masyarakat pribumi, sudah tentu cultuurstelstel amat memeras keringat dan darah mereka, apalagi aturan kerja rodi juga masih diberlakukan.  Namun segi positifnya adalah, mereka mulai mengenal tata cara menanam tanaman komoditas ekspor yang pada umumnya bukan tanaman asli Indonesia, dan masuknya ekonomi uang di pedesaan yang memicu meningkatnya taraf hidup mereka.  Bagi pemerintah Belanda, ini berarti bahwa masyarakat sudah bisa menyerap barang-barang impor yang mereka datangkan ke Hindia Belanda. Dan ini juga merubah cara hidup masyarakat pedesaan menjadi lebih komersial, tercermin dari meningkatnya jumlah penduduk yang melakukan kegiatan ekonomi nonagraris.
            Selain VOC dan cultuurstelstel pemerintah Belanda juga memberlakukan sitem ekonomi pintu terbuka yang mendorong pemerintah Hindia Belanda untuk mengubah kebijakan ekonominya.  Dibuatlah peraturan-peraturan agraria yang baru, yang antara lain mengatur tentang penyewaan tanah pada pihak swasta untuk jangka 75 tahun, dan aturan tentang tanah yang boleh disewakan dan yang tidak boleh.  Pada akhirnya, sistem ini bukannya meningkatkan kesejahteraan masyarakat pribumi, tapi malah menambah penderitaan, terutama bagi para kuli kontrak yang pada umumnya tidak diperlakukan layak.

2.      Masa Kependudukan Inggris ( 1811-1816 ).
            Inggris berusaha merubah pola pajak hasil bumi yang telah hampir dua abad diterapkan oleh Belanda, dengan menerapkan Landrent ( pajak tanah ).  Sistem ini sudah berhasil di India, dan Thomas Stamford Raffles mengira sistem ini akan berhasil juga di Hindia Belanda.  Selain itu, dengan landrent, maka penduduk pribumi akan memiliki uang untuk membeli barang produk Inggris atau yang diimpor dari India.  Inilah imperialisme modern yang menjadikan tanah jajahan tidak sekedar untuk dieksplorasi kekayaan alamnya, tapi juga menjadi daerah pemasaran produk dari negara penjajah.  Akan tetapi, perubahan yang cukup mendasar dalam perekonomian ini sulit dilakukan, dan bahkan mengalami kegagalan di akhir kekuasaan Inggris yang hanya seumur jagung di Hindia Belanda.   Hal ini disebabkan oleh:
-        Masyarakat Hindia Belanda pada umumnya buta huruf dan kurang mengenal uang, apalagi untuk menghitung luas tanah yang kena pajak.
-        Pegawai pengukur tanah dari Inggris sendiri jumlahnya terlalu sedikit.
-        Kebijakan ini kurang didukung raja-raja dan para bangsawan, karena Inggris tak mau mengakui suksesi jabatan secara turun-temurun.

3.      Masa Kependudukan Jepang ( 1942-1945 ).
            Pemerintah militer Jepang menerapkan suatu kebijakan pengerahan sumber daya ekonomi mendukung gerak maju pasukan Jepang dalam perang Pasifik.  Sebagai akibatnya, terjadi perombakan besar-besaran dalam struktur ekonomi masyarakat.  Kesejahteraan rakyat merosot tajam dan terjadi bencana kekurangan pangan, karena produksi bahan makanan untuk memasok pasukan militer dan produksi minyak jarak untuk pelumas pesawat tempur menempati prioritas utama.  Impor dan ekspor macet, sehingga terjadi kelangkaan tekstil yang sebelumnya didapat dengan jalan impor.
Seperti ini lah sistem sosialis ala bala tentara Dai Nippon.  Segala hal diatur oleh pusat guna mencapai kesejahteraan bersama yang diharapkan akan tercapai seusai memenangkan perang Pasifik.








Jumat, 20 Mei 2011

Perkembangan Ekonomi Indonesia di Masa Mendatang

                Perekonomian Indonesia dimasa yang akan datang memang sangat menjanjikan. Bahkan, Harian The New York Times, edisi 5 Agustus 2010 menyebut: Indonesia adalah sebuah model ekonomi, setelah melewati krisis lebih dari sepuluh tahun. Sementara Financial Times(12/08/2010) mengatakan, perekonomian Indonesia merupakan macan yang tengah terbangun. Dengan keadaan ini seharusnya kita semakin optimis dengan perekonomian kita, tidak hanya makro tetapi juga mikro. Kita mempunyai  tiga kekuatan yang menjadi tiga kelemahan dari seluruh negara di dunia ini. Tiga kekuatan yang kita miliki antara lain adalah:
1.      Energi
            Kita mempunyai sumber-sumber alam yang memiliki kekuatan yang besar. Seperti metal, minyak, dan batu bara. Inilah sumber-sumber alam yang harus kita gali potensinya agar kekayaan sumber alam dapat kita manfaatkan sebaik-baiknya. Seperti proyek gas Natuna dan Cepu apabila sudah selesai, maka kita akan kembali menikmati surplus energi.
2.      Komoditas
            Sebagai negara agraris sudah sewajarnya pertanian lah yang menjadi kekuatan ekonomi kita. Walaupun harga komoditas akan selalu mengalami fluktuasi, tetapi lebih sering harga itu lebih tinggi. Peningkatan pemberdayaan komoditas ini memang sudah dijalankan, terbukti dengan Indonesia menjadi negara kedua terbesar setelah Malaysia dalam hal mengekspor kelapa sawit. Selain kelapa sawit, kita mempunyai komoditas unggulan lain seperti: kakao, kopi, tembakau, dan masih banyak lagi.
3.      Metal
            Indonesia memang kaya akan metal seperti: nikel, copper, iron ore, bauksit, dan alumina. Keuntungan yang seharusnya kita miliki ini akan lenyap begitu saja apabila kebijakan pemerintah tidak mendukungnya. Sekarang dalam undang–undang yang baru, kita harus mempunyai smelter atau peleburan logam. Jadi kita tidak perlu lagi ekspor bijih untuk diproduksi oleh negara lain, dan sebaliknya kita harus percaya diri dan mandiri untuk memproduksinya sendiri. 
           
            Selain kekayaan alam yang kita miliki, faktor pendorong pertumbuhan perekonomian kita adalah pada sektor investasi. Jika kita tengok kondisi sektor finansial kita, yang meliputi pasar modal, uang, utang dan perbankan, nampaknya tak ada yang mengkuatirkan. Secara umum, peringkat investasi Indonesia terus meningkat, seiring dengan semakin turunnya credit default swap (CDS) sebagai cermin dari risiko investasi. Bahkan, Japan Credit Rating Agency Ltd., (JCRA) telah menaikkan peringkat Indonesia ke level “investment grade”  pada bulan Juli lalu. Prospek perbankan kita juga tak kalah menjanjikan. Di tengah ambruknya sistem perbankan global, perbankan Indonesia justru membukukan tingkat keuntungan yang tinggi, selain menunjukkan tingkat kehati-hatian. Tingkat Net-Interest Margin (NIM) perbankan Indonesia yang mencapai angka sekitar 5,7 persen, merupakan angka paling tinggi dibandingkan dengan negara-negara sekitar. Bandingkan dengan Singapura yang NIM nya hanya sekitar 2 persen, Malaysia 2,3 persen, Thailand 3,3 persen. Jadi, tak salah jika para bankir asing sangat berminat masuk ke Indonesia, di samping karena potensi pasarnya yang masih sangat luas.
            Setelah melihat aspek-aspek yang bisa kita gunakan untuk mengangkat perekonomian kita, tetapi ada beberapa tantangan yang harus kita hadapi untuk menyukseskan tujuan kita tersebut, diantaranya:
1.      Penggelembungan Nilai Aset
            Kemungkinan terjadinya gelembung nilai aset (asset bubble) dan inflasi, karena kurangnya daya serap ekonomi nasional terhadap masuknya modal asing, termasuk jangka pendek.
2.      Terhentinya Arus Modal Masuk
            Terhentinya arus modal masuk dan bahkan terjadinya penarikan kembali modal masuk dalam jumlah besar. Kesalahan dalam mengambil kebijakan, keterlambatan mengambil tindakan serta kurang koordinasi antar pembuat kebijakan juga dapat berakibat buruk terhadap stabilitas makro yang sudah terjaga selama ini.
3.      Subsidi Energi dan Alokasi yang Kurang Efisien.
            Selama ini, subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) masih dinikmati orang mampu (berpenghasilan tinggi). Terkait masalah ini, Ketua Komite Ekonomi Nasional, Chairul Tanjung mengatakan yang wajib mendapatkan subsidi ialah orang miskin, orang mampu sebaiknya tidak dapat subsidi.
4.      Risiko Inflasi
            Risiko inflasi terutama dipicu komponen makanan, pendidikan, dan ekspektasi inflasi. Inflasi Indonesia yang masih tinggi, menurut Chairul Tanjung, karena selama ini kita hanya mengandalkan kebijakan moneter Bank Indonesia untuk mengelola permintaan. Padahal, selain faktor permintaan, inflasi juga dipengaruhi faktor penawaran atau tersedianya barang dan faktor distribusi yang harus diperhatikan.
5.      Infrastruktur yang Kurang Memadai
            Chairul menuturkan, tahun ini Indonesia menjual mobil sebanyak 760 ribu. Jika dalam lima tahun ke depan tidak ada penambahan jalan secara signifikan khususnya di Jakarta, akan terjadi kemacetan. Begitu pula, dengan airport dan pelabuhan. "Jika tidak ada perbaikan akan terjadi kemacetan luar biasa, yakni kemacetan ekonmi,” ujar Chairul.
6.      Kurangnya Daya Saing
            Peningkatan daya saing, perbaikan pendidikan, dan pelatihan serta penambahan pasokan tenaga teknik terdidik yang menjadi penghambat bagi perusahaan untuk melakukan ekspansi produk (utamanya yang padat karya), menghambat investasi dan mengurangi penciptaan nilai tambah dan lapangan pekerjaan.
7.      Kondisi Politik dan Hukum yang Terjadi
            Hingga kini, kinerja DPR dalam menyelesaikan legislasi, pembuatan undang-undang (UU), termasuk UU yang berkaitan dengan upaya mendorong pembangunan ekonomi masih jauh dari harapan.

Selasa, 03 Mei 2011

Modernisasi Pertanian

Pertanian merupakan salah satu cara yang digunakan oleh manusia sejak dulu untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Usaha ini telah lama dilakukan sejak zaman kehidupan purba yang ditandai dengan perubahan pola hidup dari berladang dan berpindah menjadi menetap di suatu daerah. Mengingat perannya yang penting itu, maka dicarilah berbagai cara untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan itu, salah satu caranya adalah melalui medernisasi pertanian. Indonesia memulai modernisasi pertaniannya pada tahun 1970-an dengan program revolusi hijau. Revolusi hijau sebernarnya suatu program intensifikasi tanaman pangan yang membawa ide modernisasi. Perubahan-perubahan tersebut dapat dilihat dalam beberapa hal, antara lain dalam hal pengelolaan tanah, penggunaan bibit unggul, penggunaan pupuk, penggunaan sarana-sarana produksi dan pengaturan waktu panen. Disamping penerapan teknologi, ide modernisasi juga terlihat dalam hal mengatur kelembagaan produksi. Selanjutnya muncul pula pengembangan revolusi hijau dalam berbagai bentuk antara lain Ekstensifikasi, Intensifikasi dan Diversifikasi. Berkat revolusi hijau ini Indonesia berhasil memproduksi beras sebanyak 25,8 ton, dan hasilnya Indonesia berhasil swasembada beras pada tahun 1984. Selain revolusi hijau, konsep lain pun ikut  berkembang, yaitu konsep pemuliaan spesies pertanian yang mencari varietas-varietas yang memiliki keunggulan tersendiri dan lebih menguntungkan manusia. Konsep ini muncul sebagai bagian dari peningkatan kualitas setelah adanya peningkatan kuantitas dari konsep pertama. Didapatlah varietas-varietas dengan keunggulan tertentu, seperti enak rasanya, banyak hasil panennya dalam sekali masa tanam, menghasilkan daging atau susu yang banyak dan berkualitas, dan tahan terhadap hama dan penyakit.
Dulu, konsep pertanian modern hanya berkutik dengan usaha untuk pemenuhan kebutuhan pangan. Tetapi sekarang konsep pertanian modern lebih ke arah mengoptimalisasikan usaha tani untuk menghasilkan bahan pangan yang bermutu. Konsep optimalisasi usaha tani ini dijabarkan oleh sebuah sistem terpadu yang mampu melingkupi semua sektor, termasuk industri, dan mengaitkannya menjadi sebuah rantai perekonomian Indonesia. Sistem ini merupakan penerapan dari konsep pertanian modern, yaitu agribisnis. Sistem agribisnis merupakan konsep yang lebih konkrit dan komprehensif untuk pengembangan sektor pertanian ke arah yang lebih baik. Dengan adanya sistem ini, pengembangan komoditas-komoditas pertanian Indonesia pun menjadi lebih fokus karena setiap komoditas memiliki subsistem agribisnis yang berbeda-beda.


Beberapa masalah modernisasi pertanian di dunia ketiga, khususnya Indonesia seperti:
  • Peningkatan jumlah pengangguran.
  • Merosotnya nilai-nilai tradisional dan bentuk ikatan lainnya.
  • Norma-norma saling membutuhkan dan ketergantungan yang hidup dipedesaan mulai menghilang.
  • Terjadinya polarisasi sosial.
  • Terjadinya penurunan status wanita di pedesaan.



Kamis, 14 April 2011

Kemiskinan dan Ketimpangan Pendapatan

      I.            Kemiskinan
            Kemiskinan adalah keadaan dimana pendapatan seseorang tidak dapat memenuhi kebutuhan minimumnya. Tingkat pendapatan itulah yng menentukan keadaan seseorang itu miskin atau tidak miskin. Kemiskinan merupakan permasalahan bangsa yang harus segera ditangani dan memerlukan langkah-langkah penanganan dan pendekatan yang sistematik, terpadu dan menyeluruh. Usaha-usaha tersebut diharapkan dapat mengurangi tingkat kemiskinan dan juga menaikan martabat dan taraf  hidup masyarakat.
Secara garis besar penyebab kemiskinan dapat diungkapkan antara lain :
  1.   Kemiskinan alami (natural) adalah kemiskinan yang disebabkan keadaan alam suatu daerah yang miskin. Kemiskinan ini hanya dapat di atasi dengan bantuan dari luar daerah.
  2.  Kemiskinan budaya (kultural) adalah kemiskinan yang disebabkan kondisi sosial, budaya penduduk di daerah itu mendukung kemiskinan. Contoh di Nias karena banyaknya pesta adat sehingga terjadi utang adat dan akhirnya mereka menjadi miskin. Kemiskinan ini sangat sulit dan membutuhkan waktu yang lama untuk diatasi.
  3.  Kemiskinan struktur (structural) adalah kemiskinan yang disebabkan keadaan struktur pemerintahan, struktur pendistribusian fasilitas yang membuat suatu daerah penduduknya menjadi miskin. Contoh, penduduk di luar Jawa banyak miskin karena hasil minyak lebih banyak digunakan di Jawa.

Macam-macam kemiskinan:
  1.  Kemiskinan Absolut adalah kemiskinan yang diidentifikasi dari jumlah penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan tertentu.
  2. Kemiskinan Relatif adalah pangsa pendapatan nasional yang diterima oleh masing-masing golongan pendapatan.

 Penanggulangan kemiskinan:
  1. Pemberian Subsidi. Pemberian subsidi kepada sekolah seperti BOS (Bantuan Operasional Sekolah) memang banyak membantu untuk seluruh masyarakat baik masyarakat yang kurang mampu maupun yang pas-pasan hidupnya. Apalagi biasanya setiap sekolah negri dibebaskan oleh biaya (gratis), walaupun pada prakteknya masih ada sesekali pungutan. Tapi saya orang yang pernah merasakan dana bos, waktu saya Sekolah Dasar, dan Sekolah Menengah Pertama cukup terbantu akan adanya dana BOS ini.
  2.  Pemberian Pelatihan Pendidikan (Keterampilan)Diharapkan dengan pemberian pelatihan ini masyarakat yang menganggur dapat mengembangkan keterampilannya untuk membuka usahanya sendiri, dengan usaha ini tentu saja masyarakat itu bisa menaikkan taraf hidupnya dengan kemampuan yang ia miliki sendiri.
  3.  Pemberian Fasilitas Secara GratisPemberian fasilitas seperti berobat gratis banyak membantu kehidupan masyarakat miskin yang ada. Walaupun fasilitas ini terkesan memanjakan, tetapi apa salahnya melakukan hal yang dapat membantu sesama. Lagipula, pemberian fasilitas kesehatan seperti ini dapat menyehatkan tubuh mereka, dan tubuh sehat yang mereka miliki itu, harusnya menjadi motivasi untuk meningkatkan taraf hidup nya.


   II.            Ketimpangan Pendapatan
            Ketimpangan pendapatan adalah gambaran dari sebuah pendistribusian pendapatan masyarakat di suatu daerah/wilayah pada waktu/kurun tertentu. Seperti yang terjadi di negara kita pada jaman orde baru dimana Jakarta, sebagai sentra ekonomi, dalam realitasnya ternyata menggenggam lebih dari 70% uang beredar di Indonesia. Bahkan kurang lebih 80% investasi di Indonesia, baik investasi domestik maupun asing, berlokasi di Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi). Jika 10% saja sisa dari investasi tersebut disebar ke daerah Jawa Tengah, Jawa barat, dan Jawa Timur, berarti seluruh wilayah Indonesia di luar Jawa hanya memegang 10% nilai investasi, padahal wilayah ini menguasai 85% luas seluruh daerah Indonesia. Sehingga tidaklah mengherankan apabila distribusi persentase PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) tahun 1999 di Indonesia sangat timpang, di mana daerah-daerah di Jawa kurang lebih menikmati PDRB antara 11-18%, sementara provinsi seperti Maluku, NTT, NTB, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Jambi, dan Bengkulu mendapatkan porsi PDRB kurang dari satu persen (BPS, 2000). Dengan fakta ini bisa dibayangkan betapa lebarnya ketimpangan kegiatan ekonomi, sekaligus menjelaskan ketimpangan pendapatan yang terjadi.

Kaitan antara kemiskinan dan ketimpangan pendapatan ada beberapa pola yaitu:
  1. Semua anggota masyarakat mempunyai income tinggi (tak ada miskin) tetapi ketimpangan pendapatannya tinggi.
  2. Semua anggota masyarakat mempunyai income tinggi (tak ada miskin) tetapi ketimpangan pendapatannya rendah. (ini yang paling baik).
  3.  Semua anggota masyarakat mempunyai income rendah (semuanya miskin) tetapi ketimpangan pendapatannya tinggi.
  4. Semua anggota masyarakat mempunyai income rendah (semuanya miskin) tetapi ketimpangan pendapatannya rendah.
  5.  Tingkat income masyarakat bervariasi (sebagian miskin, sebagian tidak miskin) tetapi ketimpangan pendapatannya tinggi.
  6. Tingkat income masyarakat bervariasi (sebagian miskin, sebagian tidak miskin) tetapi ketimpangan pendapatannya rendah.
  7. Tingkat income masyarakat bervariasi (sebagian miskin, sebagian tidak miskin) tetapi ketimpangan pendapatannya tinggi.

            Untuk mengatasi masalah ini tidak cukup hanya bicara mengenai subsidi untuk masyarakat miskin maupun peningkatan pendidikan (keterampilan) tenaga kerja di Indonesia. Sesungguhnya, persoalan yang terjadi adalah akibat kebijakan pembangunan ekonomi yang kurang tepat dan bersifat struktural. Maksudnya, kebijakan yang diambil tidak hanya menyokong satu sektor saja melainkan pemerataan di seluruh sektor (pertanian, industri, pemabangunan) dan kebijakan itu tidak terpusat di wilayah tertentu saja melainkan kesemua wilayah yang ada sehingga ketimpangan pendapatan bisa dikurangi. Dari perspektif ini agenda mendesak bagi Indonesia adalah memikirkan kembali secara serius model pembangunan ekonomi yang secara serentak bisa memajukan semua sektor dengan melibatkan seluruh rakyat sebagai partisipan. Sebagian besar ekonom meyakini bahwa strategi pembangunan itu adalah modernisasi pertanian dengan melibatkan sektor industri sebagai unit pengolahnya. Di samping itu upaya minimalisasi ketimpangan pendapatan juga harus menyentuh aspek distribusi faktor produksi.