Jumat, 20 Mei 2011

Perkembangan Ekonomi Indonesia di Masa Mendatang

                Perekonomian Indonesia dimasa yang akan datang memang sangat menjanjikan. Bahkan, Harian The New York Times, edisi 5 Agustus 2010 menyebut: Indonesia adalah sebuah model ekonomi, setelah melewati krisis lebih dari sepuluh tahun. Sementara Financial Times(12/08/2010) mengatakan, perekonomian Indonesia merupakan macan yang tengah terbangun. Dengan keadaan ini seharusnya kita semakin optimis dengan perekonomian kita, tidak hanya makro tetapi juga mikro. Kita mempunyai  tiga kekuatan yang menjadi tiga kelemahan dari seluruh negara di dunia ini. Tiga kekuatan yang kita miliki antara lain adalah:
1.      Energi
            Kita mempunyai sumber-sumber alam yang memiliki kekuatan yang besar. Seperti metal, minyak, dan batu bara. Inilah sumber-sumber alam yang harus kita gali potensinya agar kekayaan sumber alam dapat kita manfaatkan sebaik-baiknya. Seperti proyek gas Natuna dan Cepu apabila sudah selesai, maka kita akan kembali menikmati surplus energi.
2.      Komoditas
            Sebagai negara agraris sudah sewajarnya pertanian lah yang menjadi kekuatan ekonomi kita. Walaupun harga komoditas akan selalu mengalami fluktuasi, tetapi lebih sering harga itu lebih tinggi. Peningkatan pemberdayaan komoditas ini memang sudah dijalankan, terbukti dengan Indonesia menjadi negara kedua terbesar setelah Malaysia dalam hal mengekspor kelapa sawit. Selain kelapa sawit, kita mempunyai komoditas unggulan lain seperti: kakao, kopi, tembakau, dan masih banyak lagi.
3.      Metal
            Indonesia memang kaya akan metal seperti: nikel, copper, iron ore, bauksit, dan alumina. Keuntungan yang seharusnya kita miliki ini akan lenyap begitu saja apabila kebijakan pemerintah tidak mendukungnya. Sekarang dalam undang–undang yang baru, kita harus mempunyai smelter atau peleburan logam. Jadi kita tidak perlu lagi ekspor bijih untuk diproduksi oleh negara lain, dan sebaliknya kita harus percaya diri dan mandiri untuk memproduksinya sendiri. 
           
            Selain kekayaan alam yang kita miliki, faktor pendorong pertumbuhan perekonomian kita adalah pada sektor investasi. Jika kita tengok kondisi sektor finansial kita, yang meliputi pasar modal, uang, utang dan perbankan, nampaknya tak ada yang mengkuatirkan. Secara umum, peringkat investasi Indonesia terus meningkat, seiring dengan semakin turunnya credit default swap (CDS) sebagai cermin dari risiko investasi. Bahkan, Japan Credit Rating Agency Ltd., (JCRA) telah menaikkan peringkat Indonesia ke level “investment grade”  pada bulan Juli lalu. Prospek perbankan kita juga tak kalah menjanjikan. Di tengah ambruknya sistem perbankan global, perbankan Indonesia justru membukukan tingkat keuntungan yang tinggi, selain menunjukkan tingkat kehati-hatian. Tingkat Net-Interest Margin (NIM) perbankan Indonesia yang mencapai angka sekitar 5,7 persen, merupakan angka paling tinggi dibandingkan dengan negara-negara sekitar. Bandingkan dengan Singapura yang NIM nya hanya sekitar 2 persen, Malaysia 2,3 persen, Thailand 3,3 persen. Jadi, tak salah jika para bankir asing sangat berminat masuk ke Indonesia, di samping karena potensi pasarnya yang masih sangat luas.
            Setelah melihat aspek-aspek yang bisa kita gunakan untuk mengangkat perekonomian kita, tetapi ada beberapa tantangan yang harus kita hadapi untuk menyukseskan tujuan kita tersebut, diantaranya:
1.      Penggelembungan Nilai Aset
            Kemungkinan terjadinya gelembung nilai aset (asset bubble) dan inflasi, karena kurangnya daya serap ekonomi nasional terhadap masuknya modal asing, termasuk jangka pendek.
2.      Terhentinya Arus Modal Masuk
            Terhentinya arus modal masuk dan bahkan terjadinya penarikan kembali modal masuk dalam jumlah besar. Kesalahan dalam mengambil kebijakan, keterlambatan mengambil tindakan serta kurang koordinasi antar pembuat kebijakan juga dapat berakibat buruk terhadap stabilitas makro yang sudah terjaga selama ini.
3.      Subsidi Energi dan Alokasi yang Kurang Efisien.
            Selama ini, subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) masih dinikmati orang mampu (berpenghasilan tinggi). Terkait masalah ini, Ketua Komite Ekonomi Nasional, Chairul Tanjung mengatakan yang wajib mendapatkan subsidi ialah orang miskin, orang mampu sebaiknya tidak dapat subsidi.
4.      Risiko Inflasi
            Risiko inflasi terutama dipicu komponen makanan, pendidikan, dan ekspektasi inflasi. Inflasi Indonesia yang masih tinggi, menurut Chairul Tanjung, karena selama ini kita hanya mengandalkan kebijakan moneter Bank Indonesia untuk mengelola permintaan. Padahal, selain faktor permintaan, inflasi juga dipengaruhi faktor penawaran atau tersedianya barang dan faktor distribusi yang harus diperhatikan.
5.      Infrastruktur yang Kurang Memadai
            Chairul menuturkan, tahun ini Indonesia menjual mobil sebanyak 760 ribu. Jika dalam lima tahun ke depan tidak ada penambahan jalan secara signifikan khususnya di Jakarta, akan terjadi kemacetan. Begitu pula, dengan airport dan pelabuhan. "Jika tidak ada perbaikan akan terjadi kemacetan luar biasa, yakni kemacetan ekonmi,” ujar Chairul.
6.      Kurangnya Daya Saing
            Peningkatan daya saing, perbaikan pendidikan, dan pelatihan serta penambahan pasokan tenaga teknik terdidik yang menjadi penghambat bagi perusahaan untuk melakukan ekspansi produk (utamanya yang padat karya), menghambat investasi dan mengurangi penciptaan nilai tambah dan lapangan pekerjaan.
7.      Kondisi Politik dan Hukum yang Terjadi
            Hingga kini, kinerja DPR dalam menyelesaikan legislasi, pembuatan undang-undang (UU), termasuk UU yang berkaitan dengan upaya mendorong pembangunan ekonomi masih jauh dari harapan.

Selasa, 03 Mei 2011

Modernisasi Pertanian

Pertanian merupakan salah satu cara yang digunakan oleh manusia sejak dulu untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Usaha ini telah lama dilakukan sejak zaman kehidupan purba yang ditandai dengan perubahan pola hidup dari berladang dan berpindah menjadi menetap di suatu daerah. Mengingat perannya yang penting itu, maka dicarilah berbagai cara untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan itu, salah satu caranya adalah melalui medernisasi pertanian. Indonesia memulai modernisasi pertaniannya pada tahun 1970-an dengan program revolusi hijau. Revolusi hijau sebernarnya suatu program intensifikasi tanaman pangan yang membawa ide modernisasi. Perubahan-perubahan tersebut dapat dilihat dalam beberapa hal, antara lain dalam hal pengelolaan tanah, penggunaan bibit unggul, penggunaan pupuk, penggunaan sarana-sarana produksi dan pengaturan waktu panen. Disamping penerapan teknologi, ide modernisasi juga terlihat dalam hal mengatur kelembagaan produksi. Selanjutnya muncul pula pengembangan revolusi hijau dalam berbagai bentuk antara lain Ekstensifikasi, Intensifikasi dan Diversifikasi. Berkat revolusi hijau ini Indonesia berhasil memproduksi beras sebanyak 25,8 ton, dan hasilnya Indonesia berhasil swasembada beras pada tahun 1984. Selain revolusi hijau, konsep lain pun ikut  berkembang, yaitu konsep pemuliaan spesies pertanian yang mencari varietas-varietas yang memiliki keunggulan tersendiri dan lebih menguntungkan manusia. Konsep ini muncul sebagai bagian dari peningkatan kualitas setelah adanya peningkatan kuantitas dari konsep pertama. Didapatlah varietas-varietas dengan keunggulan tertentu, seperti enak rasanya, banyak hasil panennya dalam sekali masa tanam, menghasilkan daging atau susu yang banyak dan berkualitas, dan tahan terhadap hama dan penyakit.
Dulu, konsep pertanian modern hanya berkutik dengan usaha untuk pemenuhan kebutuhan pangan. Tetapi sekarang konsep pertanian modern lebih ke arah mengoptimalisasikan usaha tani untuk menghasilkan bahan pangan yang bermutu. Konsep optimalisasi usaha tani ini dijabarkan oleh sebuah sistem terpadu yang mampu melingkupi semua sektor, termasuk industri, dan mengaitkannya menjadi sebuah rantai perekonomian Indonesia. Sistem ini merupakan penerapan dari konsep pertanian modern, yaitu agribisnis. Sistem agribisnis merupakan konsep yang lebih konkrit dan komprehensif untuk pengembangan sektor pertanian ke arah yang lebih baik. Dengan adanya sistem ini, pengembangan komoditas-komoditas pertanian Indonesia pun menjadi lebih fokus karena setiap komoditas memiliki subsistem agribisnis yang berbeda-beda.


Beberapa masalah modernisasi pertanian di dunia ketiga, khususnya Indonesia seperti:
  • Peningkatan jumlah pengangguran.
  • Merosotnya nilai-nilai tradisional dan bentuk ikatan lainnya.
  • Norma-norma saling membutuhkan dan ketergantungan yang hidup dipedesaan mulai menghilang.
  • Terjadinya polarisasi sosial.
  • Terjadinya penurunan status wanita di pedesaan.



Kamis, 14 April 2011

Kemiskinan dan Ketimpangan Pendapatan

      I.            Kemiskinan
            Kemiskinan adalah keadaan dimana pendapatan seseorang tidak dapat memenuhi kebutuhan minimumnya. Tingkat pendapatan itulah yng menentukan keadaan seseorang itu miskin atau tidak miskin. Kemiskinan merupakan permasalahan bangsa yang harus segera ditangani dan memerlukan langkah-langkah penanganan dan pendekatan yang sistematik, terpadu dan menyeluruh. Usaha-usaha tersebut diharapkan dapat mengurangi tingkat kemiskinan dan juga menaikan martabat dan taraf  hidup masyarakat.
Secara garis besar penyebab kemiskinan dapat diungkapkan antara lain :
  1.   Kemiskinan alami (natural) adalah kemiskinan yang disebabkan keadaan alam suatu daerah yang miskin. Kemiskinan ini hanya dapat di atasi dengan bantuan dari luar daerah.
  2.  Kemiskinan budaya (kultural) adalah kemiskinan yang disebabkan kondisi sosial, budaya penduduk di daerah itu mendukung kemiskinan. Contoh di Nias karena banyaknya pesta adat sehingga terjadi utang adat dan akhirnya mereka menjadi miskin. Kemiskinan ini sangat sulit dan membutuhkan waktu yang lama untuk diatasi.
  3.  Kemiskinan struktur (structural) adalah kemiskinan yang disebabkan keadaan struktur pemerintahan, struktur pendistribusian fasilitas yang membuat suatu daerah penduduknya menjadi miskin. Contoh, penduduk di luar Jawa banyak miskin karena hasil minyak lebih banyak digunakan di Jawa.

Macam-macam kemiskinan:
  1.  Kemiskinan Absolut adalah kemiskinan yang diidentifikasi dari jumlah penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan tertentu.
  2. Kemiskinan Relatif adalah pangsa pendapatan nasional yang diterima oleh masing-masing golongan pendapatan.

 Penanggulangan kemiskinan:
  1. Pemberian Subsidi. Pemberian subsidi kepada sekolah seperti BOS (Bantuan Operasional Sekolah) memang banyak membantu untuk seluruh masyarakat baik masyarakat yang kurang mampu maupun yang pas-pasan hidupnya. Apalagi biasanya setiap sekolah negri dibebaskan oleh biaya (gratis), walaupun pada prakteknya masih ada sesekali pungutan. Tapi saya orang yang pernah merasakan dana bos, waktu saya Sekolah Dasar, dan Sekolah Menengah Pertama cukup terbantu akan adanya dana BOS ini.
  2.  Pemberian Pelatihan Pendidikan (Keterampilan)Diharapkan dengan pemberian pelatihan ini masyarakat yang menganggur dapat mengembangkan keterampilannya untuk membuka usahanya sendiri, dengan usaha ini tentu saja masyarakat itu bisa menaikkan taraf hidupnya dengan kemampuan yang ia miliki sendiri.
  3.  Pemberian Fasilitas Secara GratisPemberian fasilitas seperti berobat gratis banyak membantu kehidupan masyarakat miskin yang ada. Walaupun fasilitas ini terkesan memanjakan, tetapi apa salahnya melakukan hal yang dapat membantu sesama. Lagipula, pemberian fasilitas kesehatan seperti ini dapat menyehatkan tubuh mereka, dan tubuh sehat yang mereka miliki itu, harusnya menjadi motivasi untuk meningkatkan taraf hidup nya.


   II.            Ketimpangan Pendapatan
            Ketimpangan pendapatan adalah gambaran dari sebuah pendistribusian pendapatan masyarakat di suatu daerah/wilayah pada waktu/kurun tertentu. Seperti yang terjadi di negara kita pada jaman orde baru dimana Jakarta, sebagai sentra ekonomi, dalam realitasnya ternyata menggenggam lebih dari 70% uang beredar di Indonesia. Bahkan kurang lebih 80% investasi di Indonesia, baik investasi domestik maupun asing, berlokasi di Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi). Jika 10% saja sisa dari investasi tersebut disebar ke daerah Jawa Tengah, Jawa barat, dan Jawa Timur, berarti seluruh wilayah Indonesia di luar Jawa hanya memegang 10% nilai investasi, padahal wilayah ini menguasai 85% luas seluruh daerah Indonesia. Sehingga tidaklah mengherankan apabila distribusi persentase PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) tahun 1999 di Indonesia sangat timpang, di mana daerah-daerah di Jawa kurang lebih menikmati PDRB antara 11-18%, sementara provinsi seperti Maluku, NTT, NTB, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Jambi, dan Bengkulu mendapatkan porsi PDRB kurang dari satu persen (BPS, 2000). Dengan fakta ini bisa dibayangkan betapa lebarnya ketimpangan kegiatan ekonomi, sekaligus menjelaskan ketimpangan pendapatan yang terjadi.

Kaitan antara kemiskinan dan ketimpangan pendapatan ada beberapa pola yaitu:
  1. Semua anggota masyarakat mempunyai income tinggi (tak ada miskin) tetapi ketimpangan pendapatannya tinggi.
  2. Semua anggota masyarakat mempunyai income tinggi (tak ada miskin) tetapi ketimpangan pendapatannya rendah. (ini yang paling baik).
  3.  Semua anggota masyarakat mempunyai income rendah (semuanya miskin) tetapi ketimpangan pendapatannya tinggi.
  4. Semua anggota masyarakat mempunyai income rendah (semuanya miskin) tetapi ketimpangan pendapatannya rendah.
  5.  Tingkat income masyarakat bervariasi (sebagian miskin, sebagian tidak miskin) tetapi ketimpangan pendapatannya tinggi.
  6. Tingkat income masyarakat bervariasi (sebagian miskin, sebagian tidak miskin) tetapi ketimpangan pendapatannya rendah.
  7. Tingkat income masyarakat bervariasi (sebagian miskin, sebagian tidak miskin) tetapi ketimpangan pendapatannya tinggi.

            Untuk mengatasi masalah ini tidak cukup hanya bicara mengenai subsidi untuk masyarakat miskin maupun peningkatan pendidikan (keterampilan) tenaga kerja di Indonesia. Sesungguhnya, persoalan yang terjadi adalah akibat kebijakan pembangunan ekonomi yang kurang tepat dan bersifat struktural. Maksudnya, kebijakan yang diambil tidak hanya menyokong satu sektor saja melainkan pemerataan di seluruh sektor (pertanian, industri, pemabangunan) dan kebijakan itu tidak terpusat di wilayah tertentu saja melainkan kesemua wilayah yang ada sehingga ketimpangan pendapatan bisa dikurangi. Dari perspektif ini agenda mendesak bagi Indonesia adalah memikirkan kembali secara serius model pembangunan ekonomi yang secara serentak bisa memajukan semua sektor dengan melibatkan seluruh rakyat sebagai partisipan. Sebagian besar ekonom meyakini bahwa strategi pembangunan itu adalah modernisasi pertanian dengan melibatkan sektor industri sebagai unit pengolahnya. Di samping itu upaya minimalisasi ketimpangan pendapatan juga harus menyentuh aspek distribusi faktor produksi.

Selasa, 05 April 2011

Mari Belajar Bahasa Korea 2


Ini lanjutan dari mari belajar bahasa korea sebelumnya, semoga tulisan ini menambahkan ilmu buat semuanya, lanjutannya sebagai berikut:
1.    Kamu
            Tangshin

Di mana kamu tinggal?
Eodi saseyo?

Mau pergi kemana kamu?
Odiro ka shimnikka?

Sedang apa kamu sekarang?
Chigum mousul hago kye shimnikka?

2.    Usia
          Yonse

Berapa umurmu?
Yonse ga myochi ishimnikka?
Nai ga olma imnikka?

Saya berusia (....) tahun
Chonun (....) sarieo

3.    Keluarga
          Kajong; Kajok

Bapak              aboji
Kakek             haraboji
Ayah               appa
Ibu                   omoni
Nenek             halmoni

4.    Anak
            Chanyoga

Anak Perempuan     dal
Anak Laki-laki         adul
Cucu                           sinju

Berapa anakmu?
Chanyo ga myon myong iseyo?

Saya mempunyai dua anak perempuan
Na egenun dal hana ga issumnida

5.    Siapakah?
            Nugu?

Siapakah anda?
Taegun nugu shimnikka?

Siapakah itu?
Kugu nugujiyo?

6.    Kapan?
            Onje

Kapan kita akan mulai?
Onje ttonalkkayo?

Kapan ini akan selesai?
Todaeche onje kunnajiyo

Kalau kalian mau mencoba mengucapkan kata-kata nya jangan lupa ekspresif ya, biar kayak orang korea beneran.

Jatuhnya Pemerintahan Orde Baru

      I.            Kronologi Jatuhnya Pemerintahan Orde Baru.

Ø  22 Januari ’98 : Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hingga mencapai 17000.
Ø  2 February ’98 : Presiden Soeharto mengangkat Wiranto sebagai panglima ABRI.
Ø  10 Maret ’98 : Soeharto kembali terpilih menjadi presiden yang ke-7 kalinya, di dampingi wakilpresiden B.J Habibie.
Ø  4 Mei ’98 : Harga bahan bakar minyak naik hingga 71%.
Ø  9 Mei ’98 : Presiden Soeharto berangkat ke kairo, Mesir untuk menghadiri pertemuan negara-negara berkembang.
Ø  12 Mei ’98 : Tragedi Trisakti, 4 orang mahasiswa Trisakti tewas.
Ø  13 Mei ’98 : Kerusuhan massa terjadi di Jakarta dan Solo.  Soeharto memutuskan untuk kembali ke Indonesia.
Ø  14 Mei ’98 : Demonstrasi bertambah besar hampir di seluruh kota-kota besar di Indonesia.
Ø  18 Mei ’98 : Ketua MPR/DPR, ketua umum Harmoko mengeluarkan pernyataan agar Soeharto mundur dari jabatannya, mahasiswa menduduki gedung MPR/DPR.
Ø  19 Mei ’98 : Presiden Soeharto berbicara di depan TVRI ia menyatakan tidak akan mengundurkan diri, tetapi akan merombak kabinet dan membentuk komite reformasi.
Ø  20 Mei ’98 : Amien Rais membatalkan rencana demonstrasi besar-besaran di monas karena di jaga ketat.
Ø  21 Mei ’98 : Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya pukul 19.00 WIB, wakil presiden B.J Habibie menjadi presiden yang baru.

   II.            Pergantian Orde Baru Menjadi Reformasi
            Setelah berakhirnya masa pemerintahan Habibie, lalu diadakan pemilu pada tanggal 7 Juni 1999 yang diikuti oleh 48 partai politik, dan hasil dari pemilu adalah sebagai berikut:
Ø  PDI-P  33,74%
Ø  Golkar 22,48%
Ø  PKB    12,61%
Ø  PPP     10,71%
Ø  PAN    7,21%

            Walaupun PDI-P menang tetapi tidak menjadikan pemimpinnya yaitu Megawati menjadi presiden karena aktifnya Amien Rais dalam menggalang poros tengah yang akhirnya menjadikan Gusdur sebagai seorang presiden dan megawati hanya sebagai wakil presiden.